GeoJSON (.geojson): Bahasa Peta untuk Dunia Web yang Ringan dan Terbaca Manusia

Dunia pemetaan sedang mengalami pergeseran besar. Sepuluh tahun yang lalu, pekerjaan saya selesai ketika peta sudah dicetak di kertas A0 atau diserahkan dalam bentuk CD berisi Shapefile. Namun hari ini, tuntutan klien berubah. Mereka bertanya: “Pak Ginanjar, bisa tidak petanya ditampilkan di website kantor kami? Supaya bisa diklik oleh publik?”

Saat itulah batas antara “Surveyor” dan “Web Developer” mulai kabur.

Jika Anda mencoba memaksa browser internet (seperti Chrome atau Firefox) untuk membaca file Shapefile mentah, browser akan “tersedak”. Shapefile terlalu rumit dan berat untuk lingkungan web. Di sinilah GeoJSON tampil sebagai pahlawan.

Bagi rekan-rekan GIS yang ingin merambah ke dunia WebGIS (Peta Online), atau bagi developer web yang bingung cara menampilkan data lokasi, artikel ini adalah pintu masuk Anda.


Apa Itu GeoJSON? (Tanpa Bahasa Rumit)

Secara sederhana, GeoJSON adalah format data spasial berbasis teks murni.

Berbeda dengan Shapefile atau Geodatabase yang isinya kode-kode biner (hanya dimengerti mesin), GeoJSON ditulis menggunakan standar JSON (JavaScript Object Notation). Artinya? Data ini bisa dibaca oleh manusia biasa.

Jika Anda membuka file .geojson menggunakan Notepad atau VS Code, Anda tidak akan melihat simbol aneh. Anda akan melihat struktur teks yang logis:

JSON

{
  "type": "Feature",
  "geometry": {
    "type": "Point",
    "coordinates": [107.6191, -6.9175]
  },
  "properties": {
    "nama": "Gedung Sate",
    "kota": "Bandung"
  }
}

Lihat? Tanpa perlu software QGIS pun, Anda tahu bahwa data di atas adalah sebuah titik di koordinat tertentu yang bernama “Gedung Sate”. Kemudahan inilah yang membuat GeoJSON menjadi standar baku pertukaran data di internet.


Mengapa Web Developer Mencintai GeoJSON?

Dalam proyek pengembangan aplikasi web—seperti sistem informasi tata ruang atau pantauan bencana—developer seringkali alergi dengan format Shapefile yang butuh driver khusus.

GeoJSON menawarkan kepraktisan yang luar biasa:

  1. Native JavaScript: Karena berbasis JSON, ia adalah “bahasa ibu” bagi browser web. Tidak perlu konversi rumit, data langsung bisa dimakan oleh library peta populer seperti LeafletJS, Mapbox, atau OpenLayers.
  2. Satu File Teks: Tidak ada lagi drama file .shx atau .prj yang tertinggal. Semuanya ada dalam satu file teks panjang.
  3. Mudah Diedit: Salah ketik nama atribut? Cukup buka text editor, cari, dan ganti. Selesai.

Pengalaman saya mengintegrasikan peta ke dalam website klien menjadi jauh lebih mulus sejak saya mulai membiasakan diri mengonversi data akhir ke GeoJSON sebelum diserahkan ke tim IT.


“Jebakan Batman” di Balik Kemudahannya

Meskipun terdengar sempurna untuk web, GeoJSON punya kelemahan fatal yang harus Anda waspadai sebagai praktisi profesional.

Masalah Utama: Ukuran File (File Size) Karena GeoJSON adalah teks (bukan biner yang dipadatkan), ukurannya cenderung gemuk.

  • Contoh kasus nyata saya: Sebuah data batas desa se-Jawa Barat dalam format Shapefile mungkin hanya berukuran 5 MB. Saat dikonversi ke GeoJSON, ukurannya bisa membengkak menjadi 15-20 MB.

Mengapa ini masalah? Di software Desktop (QGIS), file 20 MB itu kecil. Tapi di dunia Web, memaksa pengguna mendownload file teks 20 MB cuma untuk melihat peta adalah dosa besar. Website akan terasa lemot, lag, dan browser pengguna bisa crash.

Tips Lapangan: Gunakan GeoJSON hanya untuk data yang ringan dan sederhana. Contoh: Lokasi persebaran toko, batas administrasi level kecamatan, atau rute jalan utama. Jika Anda harus menampilkan jutaan titik atau persil tanah yang sangat detail, jangan pakai GeoJSON mentah. Gunakan teknologi Vector Tiles (MVT) atau sederhanakan (simplify) geometri-nya terlebih dahulu.

Gambar: Transformasi dari kode teks sederhana menjadi visual peta interaktif di browser web


Cara Membuat dan Mengonversi GeoJSON

Kabar baiknya, Anda tidak perlu belajar coding untuk membuat file ini. Tools yang biasa Anda pakai sudah mendukungnya:

  1. QGIS: Klik kanan layer > Export > Save Features As > Pilih Format GeoJSON. (Pastikan atur presisi desimal koordinat agar file tidak terlalu besar).
  2. Website Converter: Untuk data kecil, situs seperti geojson.io sangat membantu. Anda bisa menggambar peta di sana, lalu langsung save sebagai GeoJSON.
  3. Python: Bagi Anda yang suka ngulik skrip (seperti saya), library geopandas di Python bisa mengubah Excel menjadi GeoJSON dalam dua baris kode saja.

Penutup: Langkah Awal Menuju WebGIS

Memahami GeoJSON adalah langkah pertama Anda keluar dari “kandang” Desktop GIS menuju dunia WebGIS yang lebih luas.

Di era digital ini, peta yang baik bukan hanya peta yang akurat geometrinya, tapi juga peta yang mudah diakses oleh publik. GeoJSON adalah jembatan yang menghubungkan akurasi data Anda dengan kemudahan akses internet.

Jika Anda memiliki data Shapefile dan ingin mengubahnya menjadi peta interaktif berbasis web, namun bingung mulai dari mana, tim kami di InformasiTeknologi.com menyediakan Jasa WebGIS & Python Automation. Kami bisa membantu mengoptimasi data Anda agar ringan dan cepat saat diakses secara online.

Mari perluas jangkauan peta Anda!

Referensi

IETF RFC 7946. (2016). The GeoJSON Format. Internet Engineering Task Force. (Dokumen standar teknis resmi sedunia yang mendefinisikan aturan GeoJSON). Link: https://datatracker.ietf.org/doc/html/rfc7946

GeoJSON.org. (Situs resmi komunitas pengembang GeoJSON, berisi spesifikasi dan contoh).

LeafletJS Documentation. Using GeoJSON with Leaflet. (Panduan praktis bagaimana format ini digunakan dalam pemrograman web map).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *