Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Jika artikel-artikel sebelumnya kita banyak membahas titik dan garis (Vektor), kali ini mari kita bicara tentang gambar (Raster).
Dunia survei pemetaan telah berubah drastis sejak kehadiran teknologi Drone (UAV). Dulu, data foto udara adalah barang mewah. Sekarang, sekali terbang drone, kita bisa menghasilkan ribuan foto yang setelah diolah menjadi Orthophoto, ukurannya bisa mencapai puluhan Gigabyte.
Di sinilah masalah dimulai.
Laptop spesifikasi tinggi pun seringkali “menjerit” saat diminta membuka satu lembar peta foto udara berukuran 20 GB. Kipas laptop berputar kencang, software Not Responding, dan kopi di meja keburu dingin sebelum peta terbuka sempurna.
Untuk mengatasi ini, kita perlu memahami dua format raksasa dalam dunia raster: GeoTIFF dan ECW. Kapan harus menggunakan yang satu dan meninggalkan yang lain? Mari kita bedah berdasarkan pengalaman lapangan.
GeoTIFF (Geographic Tagged Image File Format) adalah standar emas industri untuk data raster.
Bayangkan sebuah file gambar biasa (seperti JPG di HP Anda), tapi di dalam “tubuhnya” disuntikkan informasi koordinat geografis. Jadi, pixel di pojok kiri atas gambar tersebut “tahu” bahwa dia berada di koordinat lintang/bujur sekian.
Dalam pekerjaan profesional, GeoTIFF adalah format arsip utama (Master File).
Inilah sebabnya mengapa untuk Analisis (seperti perhitungan Cut and Fill volume, analisis banjir, atau kemiringan lereng), Anda WAJIB menggunakan GeoTIFF. Jangan pernah melakukan analisis volume menggunakan format yang sudah dikompres, karena nilainya pasti sudah berubah.
Kelemahan Fatal: Ukurannya monster! Satu file mozaik drone satu kecamatan bisa menghabiskan harddisk 50 GB.
Di sisi lain ring tinju, ada penantang bernama ECW (Enhanced Compression Wavelet).
Format ini dikembangkan oleh ER Mapper (sekarang di bawah Hexagon Geospatial). Keunggulannya bagaikan sihir: Ia mampu memampatkan file gambar raksasa menjadi sangat kecil, dengan rasio kompresi hingga 1:50 atau bahkan 1:100.
Contoh nyata yang sering saya alami:
Dan hebatnya, saat di-zoom di QGIS atau ArcGIS, gambarnya tidak pecah kotak-kotak (pixelated) seperti JPG. Kualitas visualnya masih sangat tajam dan enak dilihat.
Kelemahan (Hati-Hati!): ECW menggunakan kompresi Lossy (ada data yang hilang demi mengecilkan ukuran).
Keterangan Gambar: Ilustrasi perbandingan ukuran file yang drastis antara format GeoTIFF dan ECW dengan kualitas visual yang hampir setara
Berdasarkan pengalaman saya menangani proyek pemetaan koridor jalan tol dan perkebunan, berikut adalah strategi manajemen data yang saya sarankan agar kerja tim efisien:
.tfw. Pastikan file ini selalu satu folder. Tapi GeoTIFF modern biasanya sudah menyimpannya di dalam header file (embedded), jadi lebih aman.Memilih antara GeoTIFF dan ECW bukanlah soal mana yang lebih baik, tapi soal Fungsi.
Gunakan GeoTIFF saat Anda butuh Kebenaran Data (Analisis, Arsip Master). Gunakan ECW saat Anda butuh Kecepatan & Kenyamanan (Visualisasi, Basemap, Presentasi).
Sebagai seorang profesional, kemampuan Anda memilah format ini akan sangat dihargai oleh tim IT dan manajemen kantor. Tidak ada lagi cerita server penuh atau laptop hang hanya karena salah memilih format penyimpanan data.
Jika Anda memiliki tumpukan data GeoTIFF lama yang memenuhi server kantor dan ingin dikonversi menjadi format ECW yang ringkas namun tetap tajam, atau sebaliknya, tim kami di [Layanan Jasa] menyediakan solusi manajemen data raster yang efisien untuk instansi Anda.
https://www.ogc.org/standards/geotiff