Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Jujur saja, hubungan saya dengan format Shapefile (.shp) itu seperti hubungan “Benci tapi Rindu”.
Benci karena format ini teknologinya sudah tua banget (rilis awal tahun 90-an!), ribet karena filenya beranak-pinak, dan sering bikin sakit kepala kalau salah satu filenya hilang. Tapi, saya juga rindu—atau lebih tepatnya “terpaksa setia”—karena mau tidak mau, format inilah yang masih jadi Raja Jalanan di dunia pemetaan Indonesia.
Selama 17 tahun saya malang melintang di dunia survei, mulai dari proyek lepas pantai sampai urus data kadaster, Shapefile selalu ada. Entah itu minta data ke BPN, download data dari portal BIG (Badan Informasi Geospasial), atau tukar data sama konsultan lain, pasti ujung-ujungnya: “Mas, kirim SHP-nya ya!”
Nah, buat teman-teman mahasiswa yang baru belajar QGIS atau ArcGIS, artikel ini saya tulis supaya kalian tidak mengulangi kesalahan konyol yang sering saya lihat di lapangan.
Mari kita bedah si “Legenda Tua” ini.
Ini kesalahan pemula nomor satu: Mengira Shapefile itu cuma satu file.
Sering banget saya dapat curhat dari klien atau mahasiswa magang, “Pak, kok data SHP-nya error pas saya buka?” Pas saya cek, ternyata dia cuma copy file .shp-nya saja ke flashdisk. Ya jelas error!
Shapefile itu ibarat satu tim sepakbola. Mereka harus jalan barengan. Minimal, harus ada 3 file ini dalam satu folder:
Tips Pro dari Saya: Ada satu lagi file yang sering dianggap remeh tapi fatal kalau hilang: .prj (Projection). Pernah nggak kalian overlay peta Jakarta, tapi jatuhnya malah di Afrika? Nah, itu gara-gara file .prj hilang atau korup. Jadi, pastikan file kecil ini selalu ikut terbawa.

Gambar 1 Satu nama, beda rupa. Jangan dipisahkan!
Kalau ada GeoPackage yang lebih canggih (satu file ringkas), kenapa kita masih bertahan pakai Shapefile?
Jawabannya simpel: Kebiasaan dan Kompatibilitas.
Ibarat mobil Kijang Kapsul, Shapefile itu mesin tua tapi “badak”.
Hampir semua instansi pemerintah di Indonesia masih menjadikan SHP sebagai standar serah terima pekerjaan. Jadi, suka tidak suka, kalian wajib menguasai format ini kalau mau cari makan di industri geospasial.
Walaupun populer, kalian harus sadar kalau Shapefile punya batasan yang kadang bikin emosi. Ini pengalaman nyata saya:
Kalian capek-capek nulis nama kolom di tabel atribut: KEPADATAN_PENDUDUK_2024. Pas disimpan jadi SHP, eh berubah jadi: KEPADATAN_. Kenapa? Karena Shapefile cuma membolehkan maksimal 10 karakter untuk nama kolom. Ini warisan database jadul (dBase IV) yang masih kebawa sampai sekarang. Solusinya? Singkat-singkat aja nulisnya, misal KPDT_PDK24.
Pernah saya proses data kontur se-Provinsi detail banget. Pas mau di-save, error! Ternyata ukuran file .shp atau .dbf nggak boleh lebih dari 2 GigaByte. Kalau data kalian raksasa, mending pindah ke GeoPackage atau Geodatabase.
Ini peringatan keras. JANGAN PERNAH me-rename file Shapefile lewat Windows Explorer (Klik Kanan > Rename). Misal kalian ubah Jalan.shp jadi Jalan_Baru.shp, tapi lupa ubah Jalan.shx-nya. Dijamin data kalian rusak (corrupt) dan nggak bisa dibuka lagi. Kalau mau ganti nama, lakukan lewat software GIS-nya (Catalog), atau “Save As” ulang.
(Tempatkan Gambar 2 di sini: Ilustrasi tanda silang merah besar pada aksi rename file di Windows Explorer)
Kesimpulannya, ESRI Shapefile itu format yang wajib kalian “hormati” tapi juga harus waspadai. Dia adalah jembatan komunikasi antar software peta di seluruh dunia.
Buat teman-teman yang sedang ngerjain skripsi atau proyekan:
.prj-nya sebelum mulai analisis.Kalau kalian butuh data Shapefile seluruh Indonesia yang sudah Clean, rapi, dan ada file projection-nya (jadi nggak nyasar ke Afrika), kalian bisa cek di Katalog Data website ini. Daripada pusing benerin data error download gratisan, mending fokus ke analisisnya, kan?
Selamat memetakan!