ESRI Shapefile (.shp): Format Peta “Jadul” yang Menolak Punah (Wajib Tahu!)

Jujur saja, hubungan saya dengan format Shapefile (.shp) itu seperti hubungan “Benci tapi Rindu”.

Benci karena format ini teknologinya sudah tua banget (rilis awal tahun 90-an!), ribet karena filenya beranak-pinak, dan sering bikin sakit kepala kalau salah satu filenya hilang. Tapi, saya juga rindu—atau lebih tepatnya “terpaksa setia”—karena mau tidak mau, format inilah yang masih jadi Raja Jalanan di dunia pemetaan Indonesia.

Selama 17 tahun saya malang melintang di dunia survei, mulai dari proyek lepas pantai sampai urus data kadaster, Shapefile selalu ada. Entah itu minta data ke BPN, download data dari portal BIG (Badan Informasi Geospasial), atau tukar data sama konsultan lain, pasti ujung-ujungnya: “Mas, kirim SHP-nya ya!”

Nah, buat teman-teman mahasiswa yang baru belajar QGIS atau ArcGIS, artikel ini saya tulis supaya kalian tidak mengulangi kesalahan konyol yang sering saya lihat di lapangan.

Mari kita bedah si “Legenda Tua” ini.


Jangan Tertipu Ekstensi “.shp”

Ini kesalahan pemula nomor satu: Mengira Shapefile itu cuma satu file.

Sering banget saya dapat curhat dari klien atau mahasiswa magang, “Pak, kok data SHP-nya error pas saya buka?” Pas saya cek, ternyata dia cuma copy file .shp-nya saja ke flashdisk. Ya jelas error!

Shapefile itu ibarat satu tim sepakbola. Mereka harus jalan barengan. Minimal, harus ada 3 file ini dalam satu folder:

  1. The Body (.shp): Ini badannya. Isinya gambar peta itu sendiri (garis jalan, titik sekolah, batas desa).
  2. The Brain (.dbf): Ini otaknya. Isinya tabel data (atribut). Kalau ini hilang, peta kalian cuma gambar buta tanpa nama.
  3. The Connector (.shx): Ini syarafnya. Dia yang nyambungin gambar ke data.

Tips Pro dari Saya: Ada satu lagi file yang sering dianggap remeh tapi fatal kalau hilang: .prj (Projection). Pernah nggak kalian overlay peta Jakarta, tapi jatuhnya malah di Afrika? Nah, itu gara-gara file .prj hilang atau korup. Jadi, pastikan file kecil ini selalu ikut terbawa.

Gambar 1 Satu nama, beda rupa. Jangan dipisahkan!


Kenapa Masih Pakai Shapefile? Padahal kan Ribet?

Kalau ada GeoPackage yang lebih canggih (satu file ringkas), kenapa kita masih bertahan pakai Shapefile?

Jawabannya simpel: Kebiasaan dan Kompatibilitas.

Ibarat mobil Kijang Kapsul, Shapefile itu mesin tua tapi “badak”.

  • Mau dibuka di software ArcGIS versi jadul tahun 2005? Bisa.
  • Mau dibuka di QGIS terbaru di laptop Ryzen 5 saya? Ngebut.
  • Mau dibuka di Global Mapper atau AutoCAD Map? Lancar jaya.

Hampir semua instansi pemerintah di Indonesia masih menjadikan SHP sebagai standar serah terima pekerjaan. Jadi, suka tidak suka, kalian wajib menguasai format ini kalau mau cari makan di industri geospasial.


Kelemahan yang Bikin “Elus Dada”

Walaupun populer, kalian harus sadar kalau Shapefile punya batasan yang kadang bikin emosi. Ini pengalaman nyata saya:

1. Nama Kolom “Terpotong”

Kalian capek-capek nulis nama kolom di tabel atribut: KEPADATAN_PENDUDUK_2024. Pas disimpan jadi SHP, eh berubah jadi: KEPADATAN_. Kenapa? Karena Shapefile cuma membolehkan maksimal 10 karakter untuk nama kolom. Ini warisan database jadul (dBase IV) yang masih kebawa sampai sekarang. Solusinya? Singkat-singkat aja nulisnya, misal KPDT_PDK24.

2. Ukuran Mentok 2GB

Pernah saya proses data kontur se-Provinsi detail banget. Pas mau di-save, error! Ternyata ukuran file .shp atau .dbf nggak boleh lebih dari 2 GigaByte. Kalau data kalian raksasa, mending pindah ke GeoPackage atau Geodatabase.

3. Jangan Rename Manual!

Ini peringatan keras. JANGAN PERNAH me-rename file Shapefile lewat Windows Explorer (Klik Kanan > Rename). Misal kalian ubah Jalan.shp jadi Jalan_Baru.shp, tapi lupa ubah Jalan.shx-nya. Dijamin data kalian rusak (corrupt) dan nggak bisa dibuka lagi. Kalau mau ganti nama, lakukan lewat software GIS-nya (Catalog), atau “Save As” ulang.

(Tempatkan Gambar 2 di sini: Ilustrasi tanda silang merah besar pada aksi rename file di Windows Explorer)


Kesimpulan: Teman Setia yang Rewel

Kesimpulannya, ESRI Shapefile itu format yang wajib kalian “hormati” tapi juga harus waspadai. Dia adalah jembatan komunikasi antar software peta di seluruh dunia.

Buat teman-teman yang sedang ngerjain skripsi atau proyekan:

  1. Selalu ZIP (kompres) semua file (.shp, .shx, .dbf, .prj) jadi satu sebelum dikirim via email/WA.
  2. Cek file .prj-nya sebelum mulai analisis.

Kalau kalian butuh data Shapefile seluruh Indonesia yang sudah Clean, rapi, dan ada file projection-nya (jadi nggak nyasar ke Afrika), kalian bisa cek di Katalog Data website ini. Daripada pusing benerin data error download gratisan, mending fokus ke analisisnya, kan?

Selamat memetakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *